Kamis, 10 September 2015



Puluhan tahun opini kita digiring untuk menghujat Suharto karena telah mewariskan Hutang yang bejibun untuk rakyat Indonesia. Puluhan tahun kita dicekoki dengan berbagai cerita kalau Hutang yang ditinggalkan Suharto teramat besar hingga membuat Indonesia bangkrut. Mereka malah menebar berbagai cerita bahkan melampirkan tabel yang mereka buat sendiri untuk lebih meyakinkan para pembacanya kalau hutang yang ditinggalkan Suharto memang cukup besar. Kalau dilihat dari nominalnya memang benar hutang yang ditinggalkan Suharto terlihat cukup besar. Tapi apakah memang seperti itu yang terjadi ? Lihat tabel Warisan Hutang Para Presiden Kita dibawah ini.

Kali ini penulis ingin mengajak para pembaca untuk lebih cermat dan lebih cerdas melihat value dari nominal dari suatu mata uang. Pertama-tama kita perlu tahu, apa itu Value ? Value adalah nilai dari nominal tersebut dalam hal kemampuan membeli suatu barang atau dengan kata lain value dari nominal mata uang adalah daya beli dari nominal mata uang itu sendiri. Mari kita ambil satu contoh; uang sebesar Rp.10.000.000,- ditahun 1980 tidaklah sama dengan uang sebesar Rp.10.000.000,- ditahun 2015 ini. Ditahun 1980, dengan uang sebesar Rp.10.000.000'- kita mampu membeli 4 unit sepeda motor Honda Astrea (harga saat itu berkisar Rp.2.200.000 - Rp.2.500.000/unit), tapi ditahun 2015 ini dengan uang sebesar Rp.10.000.000,- kita tidak mungkin mampu membeli satu unit sekalipun sepeda motor Honda. Itu artinya nilai nominal suatu mata uang akan semakin mengecil untuk tahun berikutnya.




Untuk mengukur value dari suatu nominal mata uang direntang waktu yang berbeda, Hukum Internasional telah menetapkan suatu standar sebagai alat ukurnya yaitu emas. Emas disepakati sebagai alat ukur dengan berbagai pertimbangan keekonomian. Seperti diketahui bahwa fluktuasi harga emas cenderung lebih stabil dibanding barang yang lain. Emas juga tidak begitu dipengaruhi oleh lonjakan demand dan supply. Emas juga tidak begitu terpengaruh dengan lonjakan kurs valuta asing. Hal ini jelas sangat berbeda dengan kurs valuta asing yang bisa berubah sewaktu-waktu yang bergantung pada transaksi ekonomi antar negara. Walau nilai dolar hari ini terjadi kenaikan namun besok atau minggu depan dapat saja terjadi penurunan tergantung dari fluktuasi ekonomi yang ada, tapi harga emas dapat dipastikan masih stabil hingga pada titik tertentu. Kestabilan harga emas inilah yang membuat para pakar ekonomi dunia menyepakatinya menjadi alat konversi untuk mengukur value dari nominal suatu mata uang direntang waktu yang berbeda.


Sekarang mari kita mencoba mengukur value dari masing-masing nominal hutang yang diwariskan oleh masing-masing Presiden Indonesia.

1. Sukarno mewariskan hutang sebesar $6,3 Milyar yang terbagi dalam 2 kelompok hutang yaitu $4 Milyar adalah hutang perang Belanda sesuai dengan perjanjian KMB dan $2,3 Milyar adalah hutang yang diciptakan Sukarno dalam kurun waktu 1950 - 1967. (17 tahun)

2. Suharto mewariskan hutang sebesar $151 Milyar dalam kurun waktu 1967 - 1998. (31 tahun)

3. Habibie mewariskan hutang sebesar $148 Milyar dalam kurun waktu 1998 - 1999 (17 bulan)

4. Gus Dur mewariskan hutang sebesar $139 Milyar dalam kurun waktu 1999 - 2001 (21 bulan)

5. Megawati mewariskan hutang sebesar $141 Milyar dalam kurun waktu 2001-2004 (39 bulan)

6. SBY mewariskan hutang sebesar $291 Milyar dalam kurun waktu 2004 - 2014 (10 tahun).


Dari angka-angka tadi mari kita telusuri berapa harga emas pada tahun-tahun tersebut serta berapa kurs dolar pada tahun-tahun tersebut ?



Dari hasil yang kita peroleh, marilah kita melihat fluktuasi atas hutang Indonesia sejak jaman Presiden Sukarno hingga jaman Presiden SBY. Ternyata Sukarnolah yang meninggalkan Warisan Hutang kepada rakyat Indonesia yang hingga kini belum terlunasi. Secara nominal sudah bisa dipastikan kalau nilai Hutang Indonesia pasti akan naik, tapi bila dihitung secara valuitas nominal maka dapat disimpulkan bila hutang Indonesia mengalami penurunan dan itu terjadi dijaman SBY. Bahkan tanpa diketahui oleh rakyat Indonesia ternyata SBY telah melunasi seluruh hutang perang Belanda ditahun 2009 lalu yang diwariskan oleh Sukarno serta Hutang kepada IMF ditahun 2012 lalu.


Penulis sengaja membahas hasil tabel yang selama ini mereka propagandakan untuk mendiskreditkan Presiden Suharto dan Presiden SBY .
http://www.piyunganonline.org/read/hutang-pemerintah-dari-masa-ke-masa-sby-juaranya.html


Setelah kita membahas masalah value dari masing-masing nominal hutang para Presiden, maka perhatikanlah hasil yang diperoleh untuk rakyat Indonesia. Ingat ! Sekali lagi, untuk rakyat Indonesia dan memang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Silahkan beri penilaian anda sendiri.





----000----
----000----



Tidak ada komentar:

Posting Komentar